RSS

Namaku Buku


Di sana,

Aku diperlakukan sangat istemewa

Dibawa kemana- mana

Dibaca dimana pun orang berada

Mulai di halte sampai stasiun

Dari sekolah hingga ke kantor

Semua orang ingin meregukku

Aku seolah jadi lambang kemajuan

Di sana,

Aku layaknya seorang dewa

Tempat semua orang bertanya

Tempat semua orang meminta

Tempat semua orang mencari tahu

Namun nasib naas kadang menimpaku

Aku sering dijadikan kipas saat panas

Kadang juga hanya jadi penambah beban

Kadang nasibku lebih sial lagi

Aku dijadikan pengganjal pintu

Bahkan dijadikan alas tidur

Disini,

Mereka tak lagi mengerti bagaimana memperlakukan aku….

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Surat untuk Bunda

Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh


Kepada Bunda yang Surga bernaung di kakimu


Di tengah hiruk pikuknya kota ini, ananda kirimkan do'a berbalut cinta kepada bunda. Ananda tak akan pernah putus menyebut nama bunda dalam setiap do'a ananda. Semoga bunda selalu berada dalam lindungan dan kasih sayangNya. Dan semoga bunda senantiasa dikaruniakan oleh Allah kenikmatan dalam menjalankan ibadah serta munajat bunda.


Bunda...

Surat ini datang dari anakmu yang tengah dirundung rasa bersalah kepadamu. Sebenarnya, ananda tak kuasa menuliskan surat ini untuk bunda. Karena ananda baru sadar kalau air mata ananda ikut menyertai setiap goresan kata dalam surat ini. Tapi biarlah ananda ingin meluapkan kata hati ananda di surat ini. Ananda merasakan setiap kali akan menulis untuk bunda, air mata ini seakan menghalangi ananda untuk merangkai kata untuk bunda. Setiap kali air mata itu menetes, setiap kali itu pula ananda merasa sangat bersalah pada bunda.


Bunda...

Entah sudah sudah berapa lama ananda tak lagi berada di samping bunda. Kini ananda tak lagi bisa merasakan pelukan hangat dan nyaman dari bunda. Ananda juga tak lagi bisa merasakan pelukan pipi bunda yang mungkin kini telah penuh dengan guratan-guratan garis ketuaan. Ananda masih ingat terakhir kali ananda mencium tangan bunda yang sudah mulai keriput ketika ananda akan merantau ke ibu kota ini. Waktu itu bunda juga lah yang ikut mengantar ananda ke stasiun untuk melepas kepergiaan ananda. Dan kini ananda dan bunda telah jauh terpisah oleh bentangan jarak dan waktu yang ada.


Bunda...

Ananda salut pada bunda yang memiliki jiwa keikhlasan seluas samudera. Bunda begitu ikhlash melepas kepergian ananda. Bunda begitu rela walau harus terpisah jauh dari anak kandungnya. Aku tahu bunda pasti punya harapan agung pada ananda. Bunda pasti punya harapan agar ananda bisa menjadi orang yang bermanfaat di perantauan. Ananda juga masih ingat bunda pernah bilang kalau ananda harus lebih pintar dari bunda.


Namun... ananda merasakan ibunda manakah yang tak akan merasakan kebahagiaan ketika bisa berkumpul bersama anak tercintanya?. Anada yakin pasti bunda juga merasakan hal yang sama. Apalagi kini usia bunda sudah sedikit demi sedikit mulai udzur. Siapa lagi yang akan bunda andalkan selain ananda. Apalagi ananda adalah anak pertama bunda.


Bunda...

Entah mengapa semakin lama ananda meninggalkan bunda, semakin banyak pula ananda memupuk rasa bersalah pada bunda. Bunda lah yang dulu melepas ananda dengan cucuran air mata ketika ananda mencium tangan bunda. Dan bunda juga lah yang ananda harapkan masih ada nanar surga terpancar jelas di kelopak mata bunda. Ketika usia bunda kini sudah mulai beranjak udzur, seketika itu pula pertanyaan yang sama selalu membayang- bayangi ananda setiap saat. "Ketika ananda pulang nanti, masihkah bunda yang menyambut ananda dengan penuh cinta di pintu rumah?".


Bunda...

Saat ananda pulang nanti, ananda ingin bunda lah yang pertama kali merengkuh tubuh ananda. Ananda sadar kalau ananda terlalu sibuk sampai kadang ananda melupakan bunda. Dan melalaikan do'a terhatur untuk bunda. Percayalah... ananda pasti akan pulang. Walau gelar, harta dan jabatan tak mampu ananda persembahkan untuk bunda. Biarlah di sisa usiamu kini ananda bisa membahagiakan bundan dan mencurahkan kasih sayang ananda kepada bunda.


Bunda...

Mungkin hanya ini yang bisa ananda persembahkan untuk bunda. Ananda mohon maaf kalau selama ini ananda selalu menyakiti hati dan perasaan bunda. Terimalah salam rindu ananda yang tiada tara. Do'akan ananda agar ananda senantiasa mampu menghadapi kerasnya hidup ini. Jaga diri baik- baik ya bunda. I LOVE YOU BUNDA.


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh‎


Wednesday, ‎May ‎18, ‎2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments2

Surat Maaf untuk Ibu

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Kepada Ibu yang kakinya terdapat Surga


Salam takzim penuh cinta untukmu ibu


Dengan semua warna pelangi dan suara rintik air hujan, kutuliskan surat ini untuk ibu. Aku hanya berharap kau bisa tersenyum kembali setelah membaca surat dariku ini. Aku rindu senyumanmu seperti dulu yang kau berikan saat aku masih kecil. Tapi kini aku tak lagi merasakan senyum lembutmu itu. Aku sekarang telah jauh darimu di perantauan. Tapi aku bahagia karena kau dulu yang melepas aku untuk pergi jauh dengan senyum lembut penuh makna. Harapanmu tentu agar aku bisa membawa manfaat untuk keluarga dan orang lain. Hanya Do’a berbalut cinta yang mampu kupersenbahkan untukmu dari jauh. Semoga kau masih berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.


Bu, maafkan anakmu ini…

Aku yang telah banyak melupakan jasa- jasa dan perjuanganmu, melupakan masa- masa dimana saat kau bertaruh nyawa antara hidup dan mati demi aku, melupakan Do’a terjatur untukmu di setiap munajatku. Rasanya diri hanya bersimbah dosa kepadamu. Wajahmu selalu membayang- bayangiku setiap saat. Bu, aku rindu padamu. Entah, selalu saja rasa itu semakin bertambah. Saat wajahmu telah terbayang olehku, aku tak mampu menahan air mata ini. Kadang aku sangat berfikir, sampai saat ini apa yang sudah kupersembahkan untukmu. Rasanya, sampai aku telah beranjak dewasa kini belum mampu mempersembahkan sesuatu untukmu walau kau tak pernah meminta.


Bu, maafkan anakmu ini…

Aku yang sering tak menghiraukan nasehat- nasehatmu ketika kau menasehatiku lewat telepon. Padahal aku sadar kalau nasehat yang keluar dari setiap lisanmu adalah ilmu dan tentu akan bermanfaat bagiku. Aku begitu salut akan perjuanganmu mendidik dan merawatku hingga aku menjadi dewasa seperti saat ini. Kalau tak ada ibu, aku pasti tak akan bisa melihat indahnya dunia ini penuh warna.


Bu, maafkan anakmu ini…

Aku yang sering merepotkanmu, sering mengganggumu, menanyakan hal- hal yang tak berarti, mengadukan masalah yang seharusnya aku hadapi, meminta keputusan kalau aku mau mengerjakan sesuatu. Kau memang muara cinta bagiku bu. Sepertinya semuanya akan terasa ringan tanpa beban kalau sebelumnya dilaporkan padamu. Kau selalu member jawaban yang begitu menenagkan hati. Pasti jawaban- jawabanmu berbalut Do’a yang penuh dengan harapan. Terkadang kau tak mau berpanjang- panjang kata dalam memberi jawaban untukku. Hanya dengan sekali memandang dengan wajah teduhmu beriring senyum, seolah beban itu terasa ringan kembali. Aku jadi semakin cinta padamu bu. Walau kata ini tak pernah terucap dari lisanku, hati ini tak bisa dibohongi. Seperti halnya kau juga tak pernah mengucap kata cinta untukku. Tapi aku yakin betapa agungnya cintamu pada anak- anakmu. Bahkan tak mampu terwakili oleh kata cinta itu sendiri.


Bu, maafkan anakmu ini…

Akhirnya hanya sampai disini saja yang mampu kugoreskan untuk ibu. Aku tak mampu berkata- kata lagi. Sudah terlalu banyak sesuatu yang kau berikan padaku. Dan tentu tak akan muat dalam kalau hanya tertulis dalam lembaran- lembaran kertas.


Bu, mafkan anakmu ini….


Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Banten, 24 Mei 2011

At. 22.20 WIB


Anakmu

Yusuf Ichsan Ats Tsaqofy

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Surat untuk Adikku

Kepada bidadari kecilku Uswatun Khasanah


Di kota santri


Assalamua’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Dari kota ini, kakak tak henti- hentinya menyebut namamu dalam setiap do’a kakak. Agar adik selalu berada dalam jalanNya yang lurus dan senantiasa berada dalam dekapan kasih sayangNya. Aminn. Solatmu, auratmu, pakaianmu, pergaulanmu, ibadahmu kepada Allah bagaimana? Apakah masih terjaga dan terpelihara seperti dahulu? Kakak berharap kau masih mampu mempertahankan semuanya itu di tengah- tengah kehidupan yang sudah mulai tak beraturan ini.


Bidadari kecilku sayang,

Sedari kecil kau telah terdidik di pangkuan ayah dan ibu. Kini kau sudah mampu menunaikan ajaran yang telah ayah dan ibu ajarkan. Bahkan kini ayah dan ibu masih mengulurkan kasih sayangnya kepadamu. Ayah dan ibu tak mau kau kehilangan arah dan lewat dari jalur batas yang telah Allah SWT tetapkan. Oleh karena itu, ayah dan ibu rela menitipkanmu di pesantren agar kau mampu membentengi dirimu dengan pagar iman dan aqidah yang kuat.


Bidadari kecilku sayang,

Kini ayah dan ibu telah berada di ujung usianya. Mereka telah mencurahkan kasih sayangnya, tenaganya, waktunya demi aku dan kamu sebagai anak tercintanya. Merekalah sebenarnya orang yang serba kekurangan. Karena segala sesuatu yang mereka miliki hanya untuk anaknya tercinta. Merekalah yang rela mengorbankan apa saja demi pembelajaran kita dan hidup kita.


Bidadari kecilku sayang,

Pernah dulu ketika kakak tahu bahwa ayah sudah tak mampu lagi membiayai pendidikan kakak, ayah masih bersikeras dan berharap agar kakak harus tetap melanjutkan pendidikan kakak. Ayah memang laki- laki yang punya pendirian keras. Kalau ayah sudah punya kemauan, segala cara apapun ayah pasti usahakan. Kakak masih ingat apa yang ayah katakan waktu itu, “Nak, teruslah saja kau raih cita- citamu. Jangan kau hentikan asa dan citamu di tengah jalan. Urusan biaya biarlah jadi tanggungan ayah”.


Bidadari kecilku sayang,

Saat kakak menulis ini, kakak tak sadar kalau ternyata ada aliran sungai kecil membasahi pipi kakak. Kakak teringat betapa besar pengorbanan yang telah mereka berikan kepada kita. Mereka tentu berharap kita akan menjadi penerus mereka dan mampu membahagiakan mereka kala mereka masih berada di dunia maupun di akhirat kelak. Jangan sampai kita lalai menyebut nama mereka dalam setiap munajat kita.


Bidadari kecilku sayang,

Dari kota ini, kakak kirimkan salam untukmu. Salam rindu dan rindu yang tiada taranya. Kakak kirimkan kecupan cinta dan setetes airmata cinta dan harapan untukmu adikku tercinta. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan taufikNya kepadamu dimanapun kamu berada. Aminnn!


Banten, 09 Mei 2011

At 00.49 WIB

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam rindu tiada tara

Kakakmu tercinta

Mochamad Ichsan Effendi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Surat untuk Emak

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Kepada Emak yang Surga berada di kakinya


Kuawali suratku ini dengan menghaturkan do’a untuk Emak yang kini jauh denganku. Walau jarak dan waktu telah terbentang luas memisahkan kita, aku tak akan melupakan do’a terhatur untukmu di setiap do’a dan munajatku. Semoga Allah masih senantiasa mencurahkan nikmatNya kepada Emak agar Emak selalu merasakan kenikmatan tiada tara dalam bermunajat dan beribadah kepadaNya.


Emak,

Di tengah hiruk pikuknya kota ini, aku selalu saja merindukan Emak. Entah mengapa wajah Emak selalu saja berada di dekatku. Mungkin itu semua karena aku dan Emak dulu sangat dekat. Tapi kini keadaan itu sudah tak lagi aku rasakan. Aku juga tak lagi merasakan tangan lembut Emak seperti ketika Emak memijat badanku kalau aku lagi sakit. Aku masih ingat terakhir kali aku mencium tangan Emak ketika Emak akan melepaskan aku pergi ke Ibu Kota untuk menuntut ilmu. Pasti sekarang tangan Emak semakin kasar oleh garis- garis ketuaan. Karena memang usia Emak kini sudah beranjak mulai udzur.


Emak,

Pada suatu hari, aku sedang jalan- jalan melepas penat sejenak di jalanan Ibu Kota. Ketika aku sedang beristirahat berlindung dari terik panasnya matahari yang semakin menusuk kulit, aku sempat duduk bersanding dengan seorang wanita tua yang kutaksir usianya tak jauh berbeda dengan Emak. Tiba- tiba saja teringat wajah Emak di rumah. Wajah wanita ini begitu berhias garis- garis ketuaan, rambutnya pun sudah putih karena banyaknya uban. Wajahnya pun terlihat begitu lelah karena mungkin begitu berat beban yang ia pikul. Aku membayangkan pasti Emak sekarang seperti itu di rumah. Beban Emak pasti juga sangat berat seperti wanita tua yang kini duduk bersanding bersama aku.


Emak,

Aku begitu salut dengan perjuanganmu. Kau begitu tulus merawat dan membesarkan anak- anakmu hingga aku kini sudah dewasa. Aku tahu pasti ketulusan dan keikhlasanmu itu berbalut dengan cinta dan kasih sayang yang suci kepada anak- anaknya. Dengan balutan cinta, kau ajarkan aku bagaimana menantang kehidupan. Walau hidup serba kekurangan, katamu kita harus tegar bagai karang di tengah lautan. Kau juga pernah bilang padaku jangan sampai kita seperti buih di tengah lautan yang tidak teguh pendirian. Kau di mataku bagai rembulan yang tak akan pudar sinarnya memancarkan cahaya cintanya. Andai ada rembulan sepertimu pasti akan kupuja.


Namun akhirnya kini aku sadar bahwa aku sering membuat hatimu tertusuk sakit karenaku. Aku juga sering tak menghiraukan nasehat- nasehatmu. Padahal aku tahu nasehat- nasehat yang keluar dari lisanmu begitu bermakna bagiku. Nyali ini begitu menciut ketika ingin merangkai kata- kata ini untukmu. Akankah Emak masih mau memaafkan anakmu yang sudah banyak membuatmu begitu sakit?. Melalui surat ini, aku mohon Emak mau memaafkan aku dengan maaf yang tulus seperti ketika Emak merawat aku ketika aku kecil dulu. Biarkan di usiamu kini aku ingin bisa membahagiakanmu hingga akhir hayatmu tiba.


Emak,

Sekian dulu ya surat dariku. Semoga Emak senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT. Doakan anakmu di perantauan ini agar bisa menjadi anak yang seperti Emak cita- citakan. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.


Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Banten, 20 Mei 2011

At. 07.29


Salam Rindu

Yusuf Ichsan Ats Tsaqofy

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Surat Rindu untuk Ayahku

Kepada Ayah pahlawanku


Nun jauh di sana


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Di perantauan ini, tak bosan- bosannya aku menyebut namamu lewat do’aku dalam setiap munajatku. Semoga ayah senantiasa dalam keadaan sehat wal afiyat. Dan selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin. Sudah cukup lama rasanya aku tak menatap wajah sembabmu. Karena kini kau telah melepaskan aku jauh di perantauan. Aku juga tak pernah lagi mendengar suaramu saat kau memberikan petuah yang begitu menyejukkan hati ini. Tapi apa boleh buat, kini jarak dan waktu telah jauh terbentang luas memisahkan aku dan juga ayah.


Ayah…

Rasanya baru kemarin saja aku telah jauh darimu. Rasa rindu ini begitu mendalam padamu. Begitu berat sekali rasanya hati ini kalau harus jauh darimu. Aku takut kelak tak mampu untuk membalas budimu kepadaku. Karena aku juga takut kalau aku kelak kehilangan kesempatan untuk berbakti kepadamu. Hati ini rasanya ingin selalu berada di dekatmu, menatap wajahmu, mendengar nasehat- nasehatmu, dan berdiskusi denganmu. Aku juga ingin mempersiapkan segalanya untuk menunujukkan baktiku padamu. Aku juga ingin akulah yang menyiapkan segalanya untukkmu. Saat kau bangun tidur, akulah yang seharusnya merapikan tempat tidurmu. Saat kau akan pergi bekerja, akulah yang seharusnya menyiapkan sarapan serta kopi panas kesukaanmu.


Ayah…

Aku merasakan kesedihan yang begitu mendalam kalau aku teringat akan dirimu. Kini kau telah menginjak usia udzur. Wajahmu kini telah berhiaskan garis- garis ketuaan, rambut dan juga janggutmu juga telah mulai memutih, fisikmu juga tak lagi sekuat dulu, penglihatanmu yang dulu begitu terang, kini sudah semakin memudar. Tapi aku patut acungi jempol akan semangatmu dalam bekerja demi keluargamu. Kau tak pernah menghiraukan jalanan terjal penuh bebatuan. Kau begitu yakin akan ada jalan yang terbaik yang akan Allah berikan kepadamu.


Ayah…

Aku juga teringat akan masa- masa kecilku dulu. Kaulah yang begitu semangat mengajariku sholat lima waktu dimasjid, kaulah yang mengajariku membaca Al Qur’an, kaulah yang mengajariku adzan di masjid, dan kaulah yang menginginkan aku untuk bisa masuk pondok pesantren untuk belajar agama. Rasa senang juga ada padaku ketika kau bangun shubuh saat fajar mulai menyingsing. Lalu kau bangunkan aku untuk menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid depan rumah. Apalagi kaulah yang mengumandangkan adzan subuh untuk membangunkan para tetangga dari mimpinya semalam. Agar mereka pergi ke masjid untuk bersimpuh dan bersujud menuanaikan sholat subuh berjamaah di masjid bersama- sama. Rasa bahagia bercampur haru juga ada padaku ketika kau bangun tengah malam untuk bermunajat dan menangis di hadapan Allah. Kau tak pernah berhenti mendoakan keluargamu agar tetap berada di jalanNya. Kau juga mendoakan kami anak- anakmu agar kelak mereka mampu menuai kesuksesan. Kau punya harapan kepadaku agar kelak aku bisa menggantikan dirimu ketika kelak kau sudah kembali ke haribaan Allah. Kau juga punya harapan besar agar aku mampu membimbing adik- adikku dengan ilmu yang telah aku miliki.


Ayah…

Aku juga merasakan kebahagiaan ketika kau mengajariku tentang arti perjuangan dalam menunutut ilmu. Kau bilang kalau jalan bagi penuntut ilmu itu bagai jalan berlumpur. Tapi kau juga menyuruhku agar aku tidak putus asa menghadapi masalah seperti itu. Kau juga bilang aku harus bisa melewati semua itu. Kesuksesan tak akan mungkin bisa diraih kalau aku hanya bersantai- santai saja melakukan sesuatu yang tiada guna.


Ayah…

Aku mohon jangan kau redupkan ghirohmu dalam berjuang untu islam. Kaulah yang menjadi panutan bagiku serta keluarga kita. Mari kita bersama meningkatkan taqwa kita kepada Allah. Karena dengan taqwa kita akan bisa melewati ujian- ujianNya yang saat ini semakin bertambah. Maafkan aku ayah bukan bermaksud unutk menasehatimu. Tapi inilah bukti cintaku padamu. Aku tak mau kalau kau berhenti menasehatiku, membimbingku, mengajariku tentang arti perjuangan, dan mendidikku agar aku bisa jadi pengganti dirimu kelak.


Ayah…

Hanya dengan goresan kata inilah aku bisa meluapkan rasa rindu akan dirimu. Hanya lewat kata inilah aku haturkan harapan serta do’a berbalut cinta dan kasih sayang untukmu. Kalau kau masih ingin aku menjadi anak yang kau cita- citakan seperti dalam nasehatmu, bantu aku dengan do’amu. Semoga aku bisa menjadi anak yang sholeh seperti nasehatmu padaku. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.


Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh


Banten, 25 Mei 2011

At. 08.30 WIB


Anakmu

Yusuf Ichsan Ats Tsaqofy

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Surat Untuk untuk Sahabatku

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Dear Sahabat,


Sahabat,

Bagaimana kabar imanmu hari ini? semoga senantiasa berada dalam lindunganNya. Bagaimana kabar hatimu hari ini? semoga senatiasa bersih dari debu juga kelabu. Semoga Allah juga senantiasa menyuguhkan kasih sayangNya kepadamu dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Dan semoga Allah senantiasa menghadirkan rasa yang sama untuk kita seperti dulu. Menjalani hidup dengan penuh cinta. Walaupun lelah, letih, lemah kita hadapi, tapi dengan balutan keridhoan hati dan cinta kepadaNya, kita mampu menjalani semuanya dengan indah.


Sahabat,


Aku tak menyangka, empat tahun yang lalu aku bisa bertemu denganmu di sebuah tempat yang juga tak kusangka bisa aku tinggali. Di pesantrenlah pertama kali aku bertemu denganmu. Aku masih ingat waktu itu kita masih lugu dan belum banyak mengenal apa itu arti persahabatan. Aku tak kuasa membendung rasa rinduku padamu kalau aku merenungkan kembali kenangan masa lalu kita dulu. Kini aku dan kamu telah terpisahkan oleh jarak dan waktu yang terbentang begitu panjang. Tapi aku tak mau berhenti mendoakanmu agar kamu senantiasa berada dalam lindunganNya dan jalanNya. Aminn.


Sahabat,

Terakhir kali kita akan berpisah, aku sebenarnya tak mampu melepaskanmu dan tak mau jauh darimu. Kenangan- kenangan manis yang telah kau rajut bersamaku rasanya sulit untuk aku uraikan. Kini hanya bayang- bayang semumu yang dapat aku rasakan. Kala aku sedang bersedih, bayanganmu selalu ada di sampingku. Menghiburku dengan cerita- cerita surga yang begitu indah. Cerita tentang orang- orang yang senantiasa merajut cinta karenaNya.


Sahabat,

Andai aku boleh memilih, aku ingin selalu bersamamu dalam setiap waktu. Aku ingin selalu mendengar celotehmu yang begitu menyejukkan hati. Tapi sayang, kini Allah SWT telah punya skenario lain. Yang tentu skenario terindah yang telah dibuat oleh Allah untuk kita. Aku tak mau menyalahkan siapa- siapa dan aku tak mau menyalahkan takdir Sang Khalik. Aku sudah sangat bersyukur kepada Allah bisa dipertemukan oleh Allah dengan sahabat sepertimu dan kau ajak aku merajut indahnya persahabatan dengan penuh cinta.


Sahabat,

Saat aku dan dirimu tak lagi bersama, aku telah menemukan banyak orang, aku telah mengenal banyak teman, tapi aku sama sekali tak pernah menemukan sahabat sepertimu. Bahkan tak mampu kutemukan perasaan hangatnya persahabatan seperti waktu aku merajut persahabatan bersamamu dulu. Kamulah yang sering mengajariku bagaimana arti persahabatan, kamulah yang mengingatkanku kala aku tak lagi berada di jalanNya, kaulah yang selalu memberi semangat kala semangatku mulai kembang kempis, kamulah yang mengajariku bagaimana menghadapi takdir walau terasa pahit dan getir kurasakan


Sahabat,

Sepahit apapun hidup yang kau jalani, jangan kau terlena padanya, seterjal apapun jalan yang kau lalui, aku berharap jangan sampai kau menghindar dari cahayaNya. Yakinkanlah pada dirimu bahwa kau tak sendiri. Masih banyak orang yang lebih berat ujiannya termasuk aku. Aku yakin Allah SWT akan selalu mau membimbing hamba- hambaNya yang senantiasa mau berusaha berada di jalan lurusNya dan selalu berusaha selalu dekat kepadaNya.


Sahabat,

Hanya inilah untaian kata yang mampu aku tuliskan untukmu. Harapanku hanya agar Allah SWT berkenan kembali mempertemukan kita kembali walau di waktu dan tempat yang berbeda. Asal masih ada cinta di sana. Dan aku berharap, kala kau membaca tulisanku ini kau juga merasakan hal yang sama sepertiku. Semoga Alah berkenan memberikan janji suciNya surga firdaus untuk kita di akhirat kelak. Amin Yaa Robbal 'Alamin.


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Banten, 09 Mei 2011

at 01.51 WIB


Sahabatmu

Yusuf Ichsan Ats Tsaqofy

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0